OTOGP
Amankan Q2 di Amerika! Veda Ega Pratama Kejutkan Paddock Moto3, Mampukah Mario Suryo Aji Masih Berjuang
Jika ada sirkuit di kalender Grand Prix yang paling sering membuat nyali pembalap menciut, Circuit of the Americas (COTA) adalah tempatnya. Dengan 20 tikungan yang karakternya berubah drastis dari satu sektor ke sektor lain, aspal bergelombang bak punggung naga, dan perubahan elevasi curam di Tikungan 1, COTA sering dijuluki arena “rodeo” bagi para rider. Di sinilah, pada Jumat (27/3/2026) waktu setempat, duo pembalap kebanggaan Indonesia, Veda Ega Pratama (Moto3) dan Mario Suryo Aji (Moto2), diuji ketangguhannya.
Keajaiban Veda Ega Pratama di Kelas Moto3
Bagi seorang pembalap debutan, mencerna COTA tidak bisa dilakukan dalam satu malam. Hal ini terlihat sangat jelas ketika sesi Free Practice 1 (FP1) kelas Moto3 dimulai di bawah langit cerah Texas. Gemuruh mesin 250cc memecah kesunyian, dan Veda, layaknya seorang koboi yang baru pertama kali bertemu tunggangan liarnya, terlihat mencoba ‘meraba’ setiap jengkal sirkuit.

Menit-menit awal FP1 adalah masa transisi yang berat. Veda terlihat berjuang menemukan racing line yang ideal di tengah bumpy-nya lintasan yang sering kali membuat motornya bergetar hebat saat pengereman keras. Posisi lap time-nya sempat terpuruk. Pada pertengahan sesi, namanya bahkan tergelincir hingga ke urutan ke-25. Ada kekhawatiran yang wajar; COTA memang tidak pernah ramah pada pendatang baru.
Namun, di situlah letak pembedanya. Veda bukanlah pembalap yang mudah panik. Delapan menit menjelang FP1 berakhir, pembalap muda Tanah Air ini menemukan ritmenya. Ia mulai menekan, memperbaiki pengereman di sektor pertama, dan menari lebih mulus di sektor esses (rangkaian tikungan cepat) yang mengalir dari Tikungan 3 hingga 6. Hasilnya? Ia merangsek naik dan menutup FP1 di posisi ke-15 dengan catatan waktu 2 menit 15,953 detik. Jaraknya +1,744 detik dari Alvaro Carpe yang memimpin sesi tersebut dengan 2:14,209. Sebuah damage control yang krusial.
“Banyak rookie yang hancur mentalnya saat masuk ke COTA dan terlempar ke posisi bawah di FP1. Trek ini sangat menuntut secara fisik dan mental,” ujar Alessandro Silva, seorang analis teknis dan mantan teknisi balap Eropa yang mengamati jalannya sesi. “Tapi apa yang dilakukan Veda di menit-menit akhir FP1 adalah kunci. Dia tidak memaksakan limit di awal, dia mengumpulkan data di kepalanya, lalu mengeksekusinya. Itu tanda kematangan.”
Kematangan itu terbukti berlipat ganda saat sesi Practice (latihan resmi yang menentukan kualifikasi Q1/Q2) digelar pada siang harinya. Suhu aspal yang sedikit meningkat tak menyurutkan agresivitas Veda. Berbekal feeling yang sudah didapat dari FP1, Veda masuk ke lintasan dengan bahasa tubuh yang jauh lebih rileks namun mematikan.

Di sesi ini, kita melihat transformasi nyata. Titik pengereman Veda di ujung trek lurus panjang (antara Tikungan 11 dan 12) jauh lebih berani. Ia mampu menjaga corner speed yang hilang di pagi hari. Grafik live timing berulang kali menyala merah di sektor pribadinya.
Sensasi itu memuncak ketika Veda secara mengejutkan sempat menyodok tajam hingga menduduki posisi ke-2 di pertengahan sesi, membuat para krunya di garasi mengangguk puas. Meski persaingan waktu yang sangat ketat dari pembalap lain pada menit-menit akhir memaksanya harus turun dan mengamankan urutan ke-14, angka di atas kertas menceritakan sebuah progres masif. Veda mencetak waktu 2 menit 14,484 detik.
Artinya, dalam rentang waktu hanya beberapa jam, Veda berhasil memangkas waktu putarannya secara fenomenal—lebih dari 1 detik penuh. Jarak dengan pimpinan sesi, Maximo Quiles (2:13,757), kini menyusut drastis menjadi hanya +0,727 detik. Berada di selisih kurang dari satu detik di sirkuit sepanjang dan serumit COTA adalah sebuah statement keras.
“Pemangkasan waktu di atas satu detik dari pagi ke siang di COTA itu luar biasa,” tambah Alessandro Silva. “Ia memangkas gap hampir satu detik dengan pimpinan balapan. Jika ia dan timnya bisa menemukan setup suspensi yang lebih ramah dengan kontur bumpy COTA besok, saya tidak akan terkejut melihatnya bertarung langsung di Q2. Veda belajar dengan kecepatan yang mengerikan.”
Tantangan Berbeda Sang Senior, Mario Aji di Moto2
Di kelas Moto2, perjuangan yang tak kalah menantang juga dihadapi oleh kompatriot sekaligus senior Veda, Mario Suryo Aji. Berbeda dengan Veda yang berstatus rookie, Mario sebenarnya memiliki memori manis di COTA setelah mencetak sejarah dengan finis ke-9 pada edisi 2025 lalu—sebuah pencapaian fenomenal bagi pembalap Indonesia. Namun, sirkuit ini kembali membuktikan reputasinya sebagai trek yang tak mudah ditaklukkan, bahkan bagi mereka yang sudah punya referensi data.

Pada sesi FP1, pembalap Idemitsu Honda Team Asia ini sebenarnya sempat tampil menjanjikan. Ia langsung menggebrak dan sempat menembus posisi ke-11 di pertengahan sesi. Sayangnya, seiring aspal yang semakin memanas dan para rival yang menajamkan waktu, Mario kesulitan mempertahankan ritme di menit-menit akhir dan harus turun untuk menutup FP1 di posisi ke-22.
Kesulitan mencari setup ideal untuk menaklukkan gundukan COTA ini tampaknya masih berlanjut di sesi Practice. Mario harus puas mengakhiri sesi penentuan tersebut di urutan ke-25 dengan catatan waktu 2 menit 08,341 detik. Ia terpaut +2,494 detik dari David Alonso yang keluar sebagai pembalap tercepat di sesi tersebut.
Meski posisinya belum ideal dan harus melewati jerat Q1, semangat pantang menyerah khas Mario tetap menyala. Mengumpulkan data lap demi lap dan menemukan setup motor Kalex-nya di lintasan yang sangat menguras fisik ini adalah investasi krusial. Pengalaman gemilangnya tahun lalu membuktikan bahwa Mario tahu betul bagaimana membalikkan keadaan di sirkuit ini.
Hari pertama di COTA telah usai. Dua pahlawan roda dua Indonesia telah merasakan kebuasan ‘banteng liar’ Texas dengan porsinya masing-masing. Patut kita nantikan bagaimana mereka menumpahkan segala data yang diserap untuk sesi kualifikasi penentuan. Mari kita bersiap, karena pertunjukan sang Merah Putih di benua Amerika baru saja dimulai.

Jadwal Lengkap Sesi Lanjutan Moto3 & Moto2 COTA 2026
Bagi Anda yang tidak ingin ketinggalan aksi penentuan dari Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji, berikut adalah jadwal lengkap sisa sesi akhir pekan ini. Mengingat perbedaan waktu yang cukup jauh dengan Austin, Texas (zona waktu CDT), sebagian besar sesi krusial akan berlangsung pada malam hingga dini hari Waktu Indonesia Barat (WIB).
Sabtu, 28 Maret 2026: Sesi Practice 2 (Penentuan menuju Q1/Q2)
- 20:40 – 21:10 WIB: Moto3 Practice 2
- 21:25 – 21:55 WIB: Moto2 Practice 2
Minggu, 29 Maret 2026 (Dini Hari): Sesi Kualifikasi (Qualifying)
- 00:50 – 01:05 WIB: Moto3 Kualifikasi 1 (Q1)
- 01:15 – 01:30 WIB: Moto3 Kualifikasi 2 (Q2)
- 01:45 – 02:00 WIB: Moto2 Kualifikasi 1 (Q1)
- 02:10 – 02:25 WIB: Moto2 Kualifikasi 2 (Q2)
Minggu, 29 Maret 2026 (Malam) – Senin, 30 Maret 2026 (Dini Hari): Balapan Utama (Main Race)
- 23:00 WIB: Balapan Moto3 (Race) – 14 Laps * 00:15 WIB (Senin Dini Hari): Balapan Moto2 (Race) – 16 Laps ***
-
NUSANTARA CULTURAL EXPEDITION JOURNEY2 minggu yang laluRIDEVENTURE 2026: Menembus Jantung Kultural Jawa Barat dan Pembuktian Nyata Morbidelli T252X di Ujung Aspal
-
NUSANTARA CULTURAL EXPEDITION JOURNEY2 minggu yang laluMenakar Nyali di Jalur Selatan Jawa Barat: Strategi Dua Kuda Besi dalam “Nusantara Cultural Expedition Journey”
-
OTOGP2 minggu yang laluVeda Ega Pratama Menggila di Moto3 Brazil: Magis Talenta Alami di Atas Sirkuit Tanpa Data Ayrton Senna
-
OTOCOMPARE3 minggu yang laluPertarungan Skuter Adventure: QJMOTOR Fort 180 Adventure Tantang Hegemoni Honda ADV 160




