Terhubung dengan kami

OTONEWS

7 Kali Belajar Tak Membuatnya Puas: Kisah Bro Abenk di Safety Riding IMBI

Redaksi Otonusa

Diterbitkan

pada

Bagi sebagian biker, satu sertifikat pelatihan keselamatan berkendara mungkin sudah cukup untuk merasa jemawa di jalan raya. Namun, anggapan itu patah di hadapan Bro Abenk. Di tengah guyuran hujan yang membasahi aspal Sirkuit Sentul, Sabtu (31/1), anggota komunitas Himalayan Owners Indonesia (HOI) ini kembali mengenakan helmnya sebagai murid. Bukan karena ia pemula, tetapi karena baginya, tujuh kali mengikuti pelatihan safety riding hanyalah permulaan untuk menaklukkan ego dan memahami keterbatasan diri saat berkendara.

Kehadiran Abenk Kampak menjadi warna tersendiri di antara sekitar 70 peserta yang memadati pelatihan mandatory Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI) Chapter Jakarta. Di bawah instruksi pelatih kawakan Dyan Dilato, ajang ini bukan sekadar kewajiban organisasi, melainkan ruang terbuka bagi seluruh komunitas motor untuk mengasah kemampuan.

Menghormati Jalan Raya

Semangat belajar yang ditunjukkan Abenk sejalan dengan misi utama yang diusung panitia. Ketua IMBI Chapter Jakarta, Ari Stefano, menegaskan bahwa jalanan umum bukanlah tempat untuk pamer ego, melainkan ruang publik yang harus dijaga harmoni di dalamnya.

“IMBI Jakarta ikut mengedukasi bahwa di jalanan kita tidak boleh seenaknya. Kita harus saling menghormati pengguna jalan dan juga kita harus berlatih supaya riding itu enjoy sampai tujuan,” ungkap Ari.

Disiplin itu sudah terlihat sejak pagi buta. Sebelum roda menyentuh aspal sirkuit, peserta berkumpul di sebuah restoran di Jalan Raya Bogor. Menyadari jalur Jakarta-Bogor yang padat, rombongan membelah diri menjadi dua rangkaian terpisah. Tujuannya sederhana namun krusial: menjaga kenyamanan pengguna jalan lain agar tidak terintimidasi oleh iring-iringan motor besar, meskipun hujan sempat turun mengiringi perjalanan mereka.

Filosofi “Fitur Tubuh”

Kembali ke Bro Abenk. Pria yang gemar memacu motor bergenre klasik adventure-nya ke berbagai destinasi sejarah dan budaya ini punya filosofi mendalam. Baginya, tubuh manusia memiliki fitur kompleks yang perlu terus dikalibrasi ulang.

“Saya sudah mengikuti safety riding training sebanyak 7 kali dengan banyak instruktur profesional, termasuk sekarang Coach Dyan Dilato,” tuturnya. “Saya menyadari bahwa proses belajar tidak bisa hanya satu kali. Malah, kita harus memahami bahwa dalam proses belajar tersebut kita berhadapan pada ‘fitur tubuh’ seperti kognitif, motorik, dan afeksi.”

Teori di Tengah Deras Hujan

Di lintasan Sentul, metode Dyan Dilato memaksa peserta langsung beraksi. Prinsipnya: lakukan dulu, baru bedah teorinya. Peserta diajak melahap kurang lebih 10 putaran sirkuit, merasakan karakter motor dan lintasan di setiap tikungan sepanjang 1 KM itu.

Ketika hujan turun semakin deras, sesi teori pun bergeser dari area outdoor ke dalam ruangan. Di sinilah Dyan mengupas tuntas teknik handling, cornering, braking, hingga fondasi paling dasar: mind mapping.

Basahnya aspal Sentul usai hujan justru menjadi ujian sesungguhnya. Saat sesi teori dan tanya-jawab usai, para peserta—termasuk Bro Abenk—kembali memasuki lintasan dengan perspektif baru. Di sana, di atas aspal yang licin, mereka belajar bahwa kemenangan sejati seorang biker bukanlah pada kecepatan, melainkan pada pengendalian diri demi keselamatan bersama.***

Liputan Agus Tumoko, Reporter OTONUSA.ID
Ditulis ulang oleh Tim Editor
Iklan
Iklan

Trending